Mengenal Zat Allah: Sebuah Pengantar

Indra Kita Bisa Menipu !

Gravitasi dapat kita rasakan meskipun tidak dapat ditangkap oleh indra kita. Proton dan Elektron kita yakini ada di setiap benda meskipun kita tidak dapat melihatnya. Antara magnet dengan magnet akan saling tarik-menarik atau tolak-menolak meskipun kita juga tidak melihat gayanya. Mengapa kita tetap percaya meskipun indra kita tidak dapat menangkapnya?

Tongkat yang dicelupkan ke air akan terlihat bengkok, garis-garis sejajar yang semakin jauh akan terlihat tidak sejajar. Serta ilusi-ilusi optik lainnya. Ternyata alat indra bisa membuat kita tertipu!

Dari pemaparan diatas, terbuktilah bahwa indra kita memiliki banyak kekurangan. Lalu, apa yang kita gunakan agar mampu menentukan secara bijak terhadap peristiwa yang terjadi? jawabannya adalah rasio. Rasiolah yang mampu membuat parameter penilaian pada indrawi yang kita punya. Dengan rasio kita dapat rasakan adanya gravitasi. Dengan rasio kita tahu bahwa tongkat akan selalu lurus meskipun terlihat bengkok ketika dicelupkan dalam kolam.

Kemampuan Indra Kita dalam Mengenal Tuhan

Ada suatu anekdot menarik terkait kemampuan indra kita yang bisa menyambungkan pembahasan pada zat Tuhan.

Di sebuah SD saat kegiatan belajar belajar mengajar berlangsung. Seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Apakah kalian melihat diri saya?”

Murid-muridnya menjawab, “iya”

“Dengan begitu, berarti saya ada,” kata sang guru.

“Apakah kalian melihat papan tulis?” tanya guru lebih lanjut.

“ya,” jawab murid.

“Maka papan tulis itu ada.” kata sang guru.

“Apakah kalian melihat meja?” tanyanya lebih lanjut.

“ya.” jawab murid

“Berarti meja itu ada.” kata sang guru.

“Apakah kalian melihat Tuhan?” tanya sang Guru yang cukup menghenyak murid-muridnya.

“Tidak.” jawab murid

“ itu berarti Tuhan tidak ada!” simpulan sang guru.

Seorang murid yang cerdas kemudian berdiri dan bertanya balik, “Apakah teman-teman melihat akal guru kita?”

Mereka serentak menjawab, “tidak”

“dengan demikian, akal guru kita tidak ada.” simpulan cerdas dari murid yang cerdas tersebut.

Penutup

Sebagai penutup di tulisan pertama ini, ada kisah menarik saat Perang Dunia II. Ketika itu pasukan Soviet yang komunis akan berangkat ke medan perang, namun sebagian dari mereka membelot dan tidak melanjutkan perang. Alasan para tentara komunis tersebut mungkin realistis, “Tidak ada bedanya apakah kami akan mati sebagai patriot atau mati sebagai pecundang yang bersembunyi di kolom ranjang, karena kami tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan baik kami di kehidupan selanjutnya.”

Persepsi mengenai ketiadaan Tuhan ini telah menjadi kesalahan dan menjadi pegangan banyak orang kafir sejak masa lampau. Ia juga adalah penyakit hati, bukan hasil dari pemikiran yang sehat, lurus, dan jujur dalam memandang sesuatu.

Bersambung, insya Allah…

Sumber:

Said Hawwa, Allah

Salim A Fillah, Gue Never Die!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s